Nama : Zurika Suwardani

NRP : G14100003

Laskar 6

Pangeran Antasari

Rahasia Allah SWT

Suatu hari ada sebuah negeri yang dipimpin oleh raja yang sangat dzalim. Padahal istana raja di negeri itu sangat bagus dan besar. Raja itu sangat kaya raya. Sedangkan kehidupan rakyatnya sangat miskin dan sengsara. Rakyatnya sering kelaparan, bahkan banyak yang meninggal karena kurang makanan. Hasil panen rakyat diambil oleh para pengawal raja atas suruhan raja dzalim itu.

Suatu hari, raja itu menderita penyakit yang tak seorang pun tau apa obatnya. Sudah beberapa tabib mengobatinya, malah semakin parah penyakit itu menggerogotinya. Rakyat di negeri itu tidak ada seorang pun yang menjenguknya, apalagi mendoakannya agar lekas sembuh. Bahkan mereka menginginkan agar raja itu meninggal dan digantikan dengan raja yang bijaksana. Namun, ada seorang tabib yang sedang mengembara dan melewati negeri itu. Tabib itu menyarankan untuk secepatnya memakan sepotong ikan musiman dari laut. Semua orang pada saat itu mengetahui bahwa saat itu, ikan tersebut sedang tidak musim. Namun, raja itu tetap saja memaksa pengawalnya untuk mencari ikan tersebut. Tanpa susah payah, pengawal itu menemukan ikan yang dicari. Hingga akhirnya raja itu pun sembuh.

Beberapa bulan kemudian, ada negeri tetangga yang rajanya itu sangat adil dan bijaksana. Rakyatnya hidup makmur dan sejahtera. Rakyatnya tidak pernah kelaparan. Negeri itupun damai hingga suatu ketika raja itu sakit. Tabib pengembara yang menasihati raja dzalim itu juga menyarankan pada raja bijaksana ini untuk memakan ikan yang sama seperti yang dimakan oleh raja dzalim dahulu. Pada saat itu kebetulan, ikan itu sedang musim, sehingga pengawal dan seluruh rakyatnya bergegas mencari ikan tersebut tanpa perintah rajanya itu. Seluruh rakyatnya mendoakan agar raja itu sembuh. Namun, apabila itu kehendak Allah, apapun akan terjadi. Tak ada seorang pun yang mendapatkan ikan itu. Hingga akhirnya, raja yang bijaksana itu wafat.

Para malikat yang melihat dua kejadian itu bingung dan bertanya pada Allah SWT.”Wahai Tuhanku, mengapa Engkau malah mencabut nyawa raja yang bijaksana itu, bukannya seharusnya Engkau mencabut nyawa raja yang dzalim?”. Allah pun menjawab,”Sesungguhnya Kami lebih mengetahui daripada kamu. Kami hanya membalas sedikit kebaikan yang dilakukan raja yang dzalim itu dengan membiarkannya hidup. Hingga akhirnya pada hari kiamat akan langsung Kami campakkan ia ke neraka karena tiada lagi kebaikannya yang harus Kami balas. Dan Kami hanya membalas sedikit kesalahan yang diperbuat oleh raja yang bijaksana dengan mencabut nyawanya. Hingga akhirnya pada hari kiamat nanti, ia sudah bersih dari dosa dan Kami akan langsung memasukkannya ke Syurga. Malikat tertegun dengan kebijaksaan Allah SWT. Sesungguhnya Allah memiliki hikmah dan rahmat-Nya dibalik semua peristiwa yang kita alami.

Semoga cerita ini memotivasi kita untuk tidak berburuk sangka pada Allah.^^

Nama : Zurika Suwardani

NRP : G14100003

Laskar 6

Pangeran Antasari

Kejujuran Membawa Berkah

Kejujuran itu adalah segalanya. Betapa beruntungnya jika dari kecil kita sudah membiasakan diri untuk jujur karena sikap jujur akan terbawa hingga kita dewasa. Jujur itu memeng pahit. Saya memiliki sebuah pengalaman mengenai kujujuran. Sulit sekali untuk menjadi orang yang jujur. Namun, ketika kita tanamkan kejujuran dalam diri, maka hati akan senantiasa tenang.

Saya akui, dulunya saya jarang untuk jujur. Saya sering tidak jujur ketika saya mengedepankan keinginan saya sendiri. Sebagai contohnya,ketika orang tua saya menanyakan pada saya,”Nak, apa kamu sudah sholat?”, lalu saya menjawabnya sudah. Padahal saya belum melaksanakan sholat. Semua itu karena saya asyik main game. Di sekolah juga saya saling menyontek dengan teman sebangku ketika ulangan. Sungguh sangat memalukan sekali. Selain membohongi guru, sebenarnya saya juga sedang membohongi diri saya sendiri.

Tiba saatnya melanjutkan pendidikan ke tingkat SMA. Dengan rahmat Allah SWT saya diterima di SMA favorit di Banda Aceh, SMAN 10 Fajar Harapan Banda Aceh. Sekolah ini baru berdiri selama 6 tahun. Angkatan saya adalah generasi ke-6. Disinilah saya menyadari dan sangat menyesali ketidakjujuran saya selama ini. Di sekolah ini berkumpul anak-anak unggul . Mereka banyak yang ikut olimpiade tingkat provinsi maupun nasional. Sedangkan saya, ketika mengikuti seleksi olimpiade matematika, saya tidak lulus karena ilmu saya sangat dangkal. Saya renungkan, coba saja dari dulu saya jujur pada diri saya, saya asah otak saya, tidak menyontek, pasti saya juga bisa lulus seleksi olimpiade itu.

SMAN 10 Fajar Harapan adalah sekolah semipesantren dan berasrama. Setiap malam ada acara pengajian dan kultum. Saya juga mengikuti khalaqah tiap sore untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. Beruntungnya, saya mendapat teman yang alim, baik, dan sangat jujur. Saya selalu mendapat nasihat darinya. Saya selalu diingatkan untuk selalu jujur dalam kondisi apapun.

Alhamdulillah di sekolah itu saya selalu masuk 5 besar. Saat ujian, teman-teman ada yang menanyakan jawaban pada saya. Tapi saya tidak memberikannya, karena itu sama saja seperti saya tidak menyayangi teman saya. Dengan menyontek, kita tidak bisa mandiri. Sejak saat itu, sebagian teman-teman yang senang menyontek tidak senang dengan saya. Hati saya rasanya sangat hancur, karena dibenci oleh teman-teman saya. Namun, teman saya yang jujur itu, selalu menyemangati saya untuk sabar. Jalan menuju kebaikan itu memang ada godaannya.

Detik-detik menuju UN, undangan-undangan universitas banyak yang datang. Saya mengambil undangan dari IPB jurusan Statistika. Tanpa disangka, saya diterima di IPB. Teman-teman yang senang menyontek tiba-tiba mendadak berubah sikap pada saya. Ternyata mereka mengharapkan saya untuk memberikan jawaban UN pada saat UN berlangsung. Namun, saya meminta maaf karena saya tidak mau memberikan mereka.

UN pun berlangsung. Hari demi hari kami lewati menunggu pengumuman kelulusan. Hingga hari-H pun tiba. Alhamdulillah semua siswa-siswi SMAN 10 Fajar Harapan lulus UN. Tapi ternyata saya termasuk siswi yang NIM-nya terendah diantara teman-teman yang lain. Saya hanya mandapat 45,00. Namun, saya merasa sangat bahagia karena saya lulus dengan kemampuan saya sendiri, tanpa menyontek jawaban teman.

Mungkin para guru juga berpikir, bagaimana bisa anak yang biasa-biasa saja di kelas bisa mendapat nilai UN tertinggi. Nilai UN bukanlah patokan seorang anak itu pintar atau tidak karena kecurangan sangat sering terjadi. Pada saat wisuda, seorang guru membisikan suatu nasihat pada saya,”Ibu tau siapa yang jujur, siapa yang tidak, pertahankan kejujuranmu, nak. Insya Allah kamu sukses dengan kejujuranmu itu”. Saya sangat merasa malu ketika mendengarkan pesan guru saya itu. Saya merasa sangat tidak pantas mendapat pujian itu karena saya dulunya juga sering tidak jujur. Tapi itu menambah semangat saya untuk selalu bersikap jujur dalam situasi apapun.

Sangat disayangkan, teman-teman saya yang menyontek saat UN dan mendapat nilai tinggi, harus mengikuti berapa kali tes karena mereka ada yang tidak rezeki untuk lulus di SNMPTN dan UMB. Alhamdulillah nilai UN bukan menjadi patokan untuk masuk universitas. Alhamdulillah saya juga sudah diterima di IPB. Mungkin ini adalah hadiah dari Allah, manisnya buah dari kejujuran. Bukannya saya berbangga diri, saya harapkan, semoga cerita ini bermanfaat dan akan lebih banyak orang yang bersemangat untuk jujur.^^